Di tanah rantau tiga orang jadi temanmu..
Dua orang jadi sahabatmu..
Maukah kau pulang untuk satu orang yang mencintaimu?
Chapter I
Lima tahun lalu saat musim tak jelas
Lima tahun lalu saat musim tak jelas
Gak ngerti musim apa ini, yang jelas kadang hujan kadang mendung tak menentu. kadang tiba tiba panas...
Mey bingung, yang jelas sama sama gak jelas dengan suasana Meyra saat ini...
Antara gundah, kangen, marah kesal...
Harus berhadapan kembali dengan cowok yang sudah mencuri hatinya namun belum sempat dikembalikan padanya.
satu satunya.....
Makhluk ganteng yang meskipun sudah berkali kali menyakitinya namun tak pernah berhasil membuatnya sampai patah hati beneran.
Karena cowok manis itu selalu pintar membuat hatinya luluh...melting again..
selalu dengan trik yang sama namun sepanjang sejarah percintaan Meyra dan Dion, belom pernah gagal trik cowok itu.
Cowok pujaannya mulai dari SMU hingga mereka bertemu 4 tahun kemudian.
Tanpa sengaja bertemu diparkiran Numata Advertising, kantor Meyra bekerja sebagai copywriter. Jabatan resminya sih copywriter, kalau gak resminya..mungkin..ehmm..agak berat mengatakannya...jadi office girl...soalnya sering disuruh suruh sama si bos buat bikin teh manis, cappucino, jus melon, lemon tea kalau lagi ada klien datang.
Meyra agak malu ketika itu, gimana kalau pas dia ngobrol manis sama si ganteng itu tiba tiba bos nyuruh bikin kopi...tengsin kan?.
"Eh, kayak kenal deh..!" sosok itu menyapa ramah.
wow...dia ingat aku..oh my God!, jantung Meyra mendadak tak beraturan deburannya..
Wuaa...rasanya kayak mimpi ketemu pangeran satu itu..
Dulu aja, waktu mereka masih satu sekolah di SMU Santo Mikhael, Meyra suka curi curi pandang lewat jendela, Dion dikelas yang berbeda.
Abis wajahnya gemesin sih, gak bosan buat dinikmati..
"Aku juga, tapi lupa namanya siapa!" Meyra jaga imej...mana mungkin dia lupa sama cowok manis pengibar bendera cinta yang pertama kali dihatinya itu.
Dion yang selalu ikut kemanapun dia melangkah, bahkan setelah empat tahun berlalu....
Makin ganteng, mungkin karena sudah rajin merawat diri disalon. terlihat bersih tidak terlihat bekas bekas jerawat yang dulu mengisi wajah cowok manis bernama lengkap Dionisius Ignatius itu.
"Hmm..satu SMU dulu kan?, yang pernah dimarahi Bu Nainggolan karena suka nulis puisi pas jam pelajaran?"
Bahkan Dion ingat bahagian itu..
Ah....Meyra tersenyum malu sendiri.
"Lagi sibuk?, Kerja disini ya?" Dion menyapa dengan gaya khasnya, yang membuat cewek cewek hatinya bergetar tak menentu.
Tulus....
Meyra mengangguk kalem. sedikit takut juga kalo tiba tiba bosnya yang super killer itu bakal memergokinya ngobrol berduaan dengan Dion.
Tapi pesona Dion, lebih kuat menahan hatinya untuk tetap menikmati wajah melankonis cowok itu.
"Mau makan?" tawaran yang tak mungkin ditolak.
Menuju ke Killiney di Carrefour, sebenarnya Meyra lebih ingin makan di Ice cream Cone, aroma es krim lebih menggodanya, namun gak enak rasanya menolak ajakan Dion.
Dion memilih tempat disudut...hmmm..sweet corner, bisik hati Meyra nakal.
Sekilas membayangkan beromantis ria sama cowok itu, kayak orang lagi pacaran..hehehe
"Ehh..!" Dion memecah lamunan Meyra.
"Apa?" wajah Meyra merah dadu, jangan jangan cowok itu bisa menebak apa yang dipikirannya tadi..
"Jadi kangen waktu masa SMU dulu, aku pernah suka sama seorang cewek...tapi aku takut ngungkapin, aku takut bakalan ditolak..!"
Woaaa..Mey terkaget-kaget, segitunya?...memang sehebat apa sih cewek itu sampai Dion takut ditolak?. perasaan dulu waktu sekolah belum ada cowok yang bisa ngalahin ketenarannya Dion.
Hebat banget pesona tuh cewek berarti.....
"Kamu mau tau gak siapa cewek itu?" Dion santai sambil menyeruput es lemon tea dihadapannya.
Meyra mengangguk dengan berat hati, dia sudah tahu pasti kalau cewek itu bukan dirinya...enggak mungkin Meyra yang sederhana...enggak mungkin bangeeeetttt..
"Dia itu lugu, polos tapi menarik...!"
Hati Mey sedikit sakit mendengar Dion memuji cewek lain, seharusnya dia sudah tahu kalau pertemuan ini bakal jadi awal yang salah...
Karena akan banyak hal hal yang tak ingin diketahuinya harus terkuak, harusnya dia tahu itu.
"Cewek itu pernah bikin puisi yang kemudian kujadikan lagu, mau dengar gak?" Meyra menggeleng.
Lagipula mana mungkin Dion nyanyi ditempat ramai seperti ini...ada ada saja..
Ternyata Dion gak main main, Dion menarik tangan Meyra lembut dan kemudian mengajaknya kesebuah taman yang tenang.
Meyra sampai kagum sendiri, dia yang sudah lama tinggal di Medan samasekali tidak tahu ada tempat sebagus ini.
mereka hanya berdua...suasananya romantis jadinya..
"Ini tempat favoritku!" Dion melangkah menuju ke sebuah pohon rindang, dibawahnya ada bangku mungil...pas untuk berdua. didepannya ada danau alami yang hijau......
Aduhh...ada tempat semanis ini terlewatkan.
"Kamu mau dengar lagunya gak?" suara Dion berhembus halus.
Meyra mengangguk terhanyut, lupa bahwa ini masih jam kantor, bahwa seharusnya dia masih balik ke kantor..
bodo ah...jarang jarang bisa berduaan dengan Dion kayak gini..
Mau dihukum mencuci toilet setiap hari juga mau rasanya, asal dia bisa dikasih waktu seharriii aja bersama cowok impiannya itu.
Tanpa sengaja Dion beradu mata dengan Meyra, hati Meyra berdetak kencang...
Entah mengapa dia merasa, tatapan mata itu tatapan mata yang sedang jatuh cinta.
Mungkinkah Dion jatuh cinta pada Mey?, si gadis biasa?.
"Mau dengar puisinya gak?"
Mey tak menjawab namun tak juga mengatakan iya. angannya melambung jauh.
"Melingkari batas asa..
Berharap waktu kan beri tanda
Pada dia yang disana
Tahukah dia disini rindu merona
Mengertikah Adanya...
Rasa itu akan selalu terjaga..
Rindu itu akan selalu ada..
Cinta abadi selamanya..
Entah sampai kapan, gitarkan memetik melodi cinta
Atau hingga kapan menanti rama mempuisikan cinta
Aku tak pernah lelah menunggu, bahkan untuk seribu musim akan berganti
Hanya ada ragu...adakah rinduku yang kau nanti?"
Suara Dion terdengar bening...Meyra terpana tak percaya..
Puisi itu kan?, bukannya itu puisi dia yang dimarahi bu Nainggolan waktu lagi jatuh cinta sama Dion?.
"Jadi gini ceritanya, waktu itu ada seorang cewek yang kena marah sama Bu Guru Bahasa Indonesia gara gara ketauan nulis puisi cinta dikelas, trus diledekin lagi sama Pak Olahraga..waktu buku yang berisi puisi itu dilempar keluar kebetulan aku yang lewat mengambil kapur dari kantor, trus aku ambil bukunya..Aku baca puisinya..keren, melankonis, romantis tapi tegar..terus terang, aku jadi sering mikirin cewek itu sejak saat itu!" Dion berkata seolah olah bukan Meyra pemilik puisi itu.
Airmata Meyra mengalir tipis tipis, Dion memandangnya lembut.
"Mungkin kita jodoh ya Mey?, dipertemukan Tuhan dengan cara yang tidak pernah kita duga seperti ini!"
Meyra tidak sanggup berkata apa apa, baginya ini masih seperti mimpi.
Mungkin benar...mungkin Dion sangat benar...Whaa....it's amazing...dihatinya tak pernah sekalipun posisi Dion tergantikan.
What a lovely moment..!
"Kamu percaya sama jodoh, Mey?"
"Yeah..yang aku tahu aku berusaha untuk percaya".
Angan Meyra melambung tinggi, namun tidak berani berharap terlalu jauh...
It's just like dream for her!
Mey bingung, yang jelas sama sama gak jelas dengan suasana Meyra saat ini...
Antara gundah, kangen, marah kesal...
Harus berhadapan kembali dengan cowok yang sudah mencuri hatinya namun belum sempat dikembalikan padanya.
satu satunya.....
Makhluk ganteng yang meskipun sudah berkali kali menyakitinya namun tak pernah berhasil membuatnya sampai patah hati beneran.
Karena cowok manis itu selalu pintar membuat hatinya luluh...melting again..
selalu dengan trik yang sama namun sepanjang sejarah percintaan Meyra dan Dion, belom pernah gagal trik cowok itu.
Cowok pujaannya mulai dari SMU hingga mereka bertemu 4 tahun kemudian.
Tanpa sengaja bertemu diparkiran Numata Advertising, kantor Meyra bekerja sebagai copywriter. Jabatan resminya sih copywriter, kalau gak resminya..mungkin..ehmm..agak berat mengatakannya...jadi office girl...soalnya sering disuruh suruh sama si bos buat bikin teh manis, cappucino, jus melon, lemon tea kalau lagi ada klien datang.
Meyra agak malu ketika itu, gimana kalau pas dia ngobrol manis sama si ganteng itu tiba tiba bos nyuruh bikin kopi...tengsin kan?.
"Eh, kayak kenal deh..!" sosok itu menyapa ramah.
wow...dia ingat aku..oh my God!, jantung Meyra mendadak tak beraturan deburannya..
Wuaa...rasanya kayak mimpi ketemu pangeran satu itu..
Dulu aja, waktu mereka masih satu sekolah di SMU Santo Mikhael, Meyra suka curi curi pandang lewat jendela, Dion dikelas yang berbeda.
Abis wajahnya gemesin sih, gak bosan buat dinikmati..
"Aku juga, tapi lupa namanya siapa!" Meyra jaga imej...mana mungkin dia lupa sama cowok manis pengibar bendera cinta yang pertama kali dihatinya itu.
Dion yang selalu ikut kemanapun dia melangkah, bahkan setelah empat tahun berlalu....
Makin ganteng, mungkin karena sudah rajin merawat diri disalon. terlihat bersih tidak terlihat bekas bekas jerawat yang dulu mengisi wajah cowok manis bernama lengkap Dionisius Ignatius itu.
"Hmm..satu SMU dulu kan?, yang pernah dimarahi Bu Nainggolan karena suka nulis puisi pas jam pelajaran?"
Bahkan Dion ingat bahagian itu..
Ah....Meyra tersenyum malu sendiri.
"Lagi sibuk?, Kerja disini ya?" Dion menyapa dengan gaya khasnya, yang membuat cewek cewek hatinya bergetar tak menentu.
Tulus....
Meyra mengangguk kalem. sedikit takut juga kalo tiba tiba bosnya yang super killer itu bakal memergokinya ngobrol berduaan dengan Dion.
Tapi pesona Dion, lebih kuat menahan hatinya untuk tetap menikmati wajah melankonis cowok itu.
"Mau makan?" tawaran yang tak mungkin ditolak.
Menuju ke Killiney di Carrefour, sebenarnya Meyra lebih ingin makan di Ice cream Cone, aroma es krim lebih menggodanya, namun gak enak rasanya menolak ajakan Dion.
Dion memilih tempat disudut...hmmm..sweet corner, bisik hati Meyra nakal.
Sekilas membayangkan beromantis ria sama cowok itu, kayak orang lagi pacaran..hehehe
"Ehh..!" Dion memecah lamunan Meyra.
"Apa?" wajah Meyra merah dadu, jangan jangan cowok itu bisa menebak apa yang dipikirannya tadi..
"Jadi kangen waktu masa SMU dulu, aku pernah suka sama seorang cewek...tapi aku takut ngungkapin, aku takut bakalan ditolak..!"
Woaaa..Mey terkaget-kaget, segitunya?...memang sehebat apa sih cewek itu sampai Dion takut ditolak?. perasaan dulu waktu sekolah belum ada cowok yang bisa ngalahin ketenarannya Dion.
Hebat banget pesona tuh cewek berarti.....
"Kamu mau tau gak siapa cewek itu?" Dion santai sambil menyeruput es lemon tea dihadapannya.
Meyra mengangguk dengan berat hati, dia sudah tahu pasti kalau cewek itu bukan dirinya...enggak mungkin Meyra yang sederhana...enggak mungkin bangeeeetttt..
"Dia itu lugu, polos tapi menarik...!"
Hati Mey sedikit sakit mendengar Dion memuji cewek lain, seharusnya dia sudah tahu kalau pertemuan ini bakal jadi awal yang salah...
Karena akan banyak hal hal yang tak ingin diketahuinya harus terkuak, harusnya dia tahu itu.
"Cewek itu pernah bikin puisi yang kemudian kujadikan lagu, mau dengar gak?" Meyra menggeleng.
Lagipula mana mungkin Dion nyanyi ditempat ramai seperti ini...ada ada saja..
Ternyata Dion gak main main, Dion menarik tangan Meyra lembut dan kemudian mengajaknya kesebuah taman yang tenang.
Meyra sampai kagum sendiri, dia yang sudah lama tinggal di Medan samasekali tidak tahu ada tempat sebagus ini.
mereka hanya berdua...suasananya romantis jadinya..
"Ini tempat favoritku!" Dion melangkah menuju ke sebuah pohon rindang, dibawahnya ada bangku mungil...pas untuk berdua. didepannya ada danau alami yang hijau......
Aduhh...ada tempat semanis ini terlewatkan.
"Kamu mau dengar lagunya gak?" suara Dion berhembus halus.
Meyra mengangguk terhanyut, lupa bahwa ini masih jam kantor, bahwa seharusnya dia masih balik ke kantor..
bodo ah...jarang jarang bisa berduaan dengan Dion kayak gini..
Mau dihukum mencuci toilet setiap hari juga mau rasanya, asal dia bisa dikasih waktu seharriii aja bersama cowok impiannya itu.
Tanpa sengaja Dion beradu mata dengan Meyra, hati Meyra berdetak kencang...
Entah mengapa dia merasa, tatapan mata itu tatapan mata yang sedang jatuh cinta.
Mungkinkah Dion jatuh cinta pada Mey?, si gadis biasa?.
"Mau dengar puisinya gak?"
Mey tak menjawab namun tak juga mengatakan iya. angannya melambung jauh.
"Melingkari batas asa..
Berharap waktu kan beri tanda
Pada dia yang disana
Tahukah dia disini rindu merona
Mengertikah Adanya...
Rasa itu akan selalu terjaga..
Rindu itu akan selalu ada..
Cinta abadi selamanya..
Entah sampai kapan, gitarkan memetik melodi cinta
Atau hingga kapan menanti rama mempuisikan cinta
Aku tak pernah lelah menunggu, bahkan untuk seribu musim akan berganti
Hanya ada ragu...adakah rinduku yang kau nanti?"
Suara Dion terdengar bening...Meyra terpana tak percaya..
Puisi itu kan?, bukannya itu puisi dia yang dimarahi bu Nainggolan waktu lagi jatuh cinta sama Dion?.
"Jadi gini ceritanya, waktu itu ada seorang cewek yang kena marah sama Bu Guru Bahasa Indonesia gara gara ketauan nulis puisi cinta dikelas, trus diledekin lagi sama Pak Olahraga..waktu buku yang berisi puisi itu dilempar keluar kebetulan aku yang lewat mengambil kapur dari kantor, trus aku ambil bukunya..Aku baca puisinya..keren, melankonis, romantis tapi tegar..terus terang, aku jadi sering mikirin cewek itu sejak saat itu!" Dion berkata seolah olah bukan Meyra pemilik puisi itu.
Airmata Meyra mengalir tipis tipis, Dion memandangnya lembut.
"Mungkin kita jodoh ya Mey?, dipertemukan Tuhan dengan cara yang tidak pernah kita duga seperti ini!"
Meyra tidak sanggup berkata apa apa, baginya ini masih seperti mimpi.
Mungkin benar...mungkin Dion sangat benar...Whaa....it's amazing...dihatinya tak pernah sekalipun posisi Dion tergantikan.
What a lovely moment..!
"Kamu percaya sama jodoh, Mey?"
"Yeah..yang aku tahu aku berusaha untuk percaya".
Angan Meyra melambung tinggi, namun tidak berani berharap terlalu jauh...
It's just like dream for her!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar